• Menentang Cinta Taj Mahal

MENCARI ZAINUDIN DI DALAM KEHIDUPAN INI

NOTA KECIL ZF ZAMIR
(Prakata untuk novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karangan Buya Hamka terbitan Puteh Press, 2016)

Van-Der-Wijck-INDIE-web

 

 

 

“Tidak Hayati ! kau mesti pulang kembali ke Padang! Biarkan saya dalam keadaan begini. Pulanglah ke Minangkabau! Janganlah hendak ditumpang hidup saya , orang tak tentu asal ….Negeri Minangkabau beradat !…..Besok hari Senin, ada Kapal berangkat dari Surabaya ke Tanjung Periuk, akan terus ke Padang! Kau boleh menumpang dengan kapal itu, ke kampungmu”.

 

SELAMA 77 tahun, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (TKVDW) ajari kita semua, Cinta bukanlah kisah indah nan kayangan untuk diimpikan.

Lelaki kaya anak sultan, perempuan cantik turun dari langit, janji sehidup semati ala Laila Majnun; semuanya hanyalah fantasia ala-akademi yang hanya boleh didapati di dalam drama petang-petang atau set filem Hindustan.

Realitinya, Cinta ialah;
Penderitaan
Kekecewaan
Pengorbanan, atau mungkin;
Perpisahan.

Apakah ini ajaran paling penting yang boleh kita pelajari dari Buya Hamka? Masakan tidak, buku yang kita semua pegang ini merentas zaman selama 77 tahun untuk mengalahkan ujian masa. Watak Hayati dan Zainudin kekal hidup dan menjadi bukti betapa janji setia bukanlah pra-syarat penting untuk bahagia, ataupun perasaan semata-semata mampu menyatukan dua hati yang sedang dilamun perkara yang dipanggil Cinta ini.

Jadi, Cinta semata-mata tidak cukup.

Menurut DH Lawrence, ‘Cinta ialah sebuah pengembaraan yang menyatukan, yang membuka mata di hadapan realiti dan memberi kekuatan untuk melawan nasib’. Atau menurut Andreas Capellanus di abad ke-12, ‘Cinta ialah penderitaan yang dibawa sejak lahir, berasal dari penglihatan yang berlebihan terhadap kecantikan lawan jenis…’.

Lantas kita semua jadi keliru, apakah Cinta ini? Yang mengasyikkan dan menjadikan manusia gila, tetapi juga menyakitkan? Menjadikan manusia hamba kepada perasaan, seterusnya korban kepada seluruh tragedi-tragedi yang tak tersangkakan?

Paling aneh, Cinta juga ialah sumber kehidupan kita sehari-hari. Punca manusia sakit dan kecewa dan menangis. Juga selalunya, menjadi sumbu yang membakar semangat untuk kita semua terus hidup.

Atau bak kata Erich Fromm, kesemua teori tentang Cinta haruslah bermula dengan teori tentang kewujudan manusia itu dahulu?

 

ii.

Lalu entah bagaimana, lelaki bernama Zainuddin ini jadi mangsa. Bayangkan, kesalahannya hanyalah jatuh cinta kepada Hayati. Tidak ada salah lainnya. Tetapi entah bagaimana, jatuh cinta-nya itu langsung salah tempat atau salah masa, tidak ada satu pun dari perkataan seperti romantik atau ghairah berjaya dikecapinya.

Orang kata jatuh cinta itu asyik. Manusia bisa jadi ketagih sebelum jadi gila dan mereng. Zainuddin bahkan bukan sahaja gila dan hampir mereng tak keruan, dia terus jatuh sakit. Jadinya, Cinta yang didambakannya itu rupa-rupanya menyakitkan.

Ombak badai dan ribut taufan langsung mengoyakkan dan menghancurkan seluruh sisa impian yang ada untuknya bahagia. Tak cukup dengan itu, pengkhianatan Hayati terhadap perasaannya dianggap sebagai tsunami atau gempa bumi, meranapkan seluruh sisa harapan yang ada – yang selama ini – dipegangnya dengan erat dan kemas.

Dan satu-satunya nikmat yang dinikmati Zainuddin atas kesalahannya jatuh cinta ini ialah jatuh sakit dan terus jadi gila.

Maka teruslah kita mencari-cari watak Zainuddin di dalam kehidupan ini. Apakah pentingnya lelaki seperti Zainuddin di zaman kita ini?

Sudah pasti tidak.

Tetapi lambang jatuh cinta, lambang lelaki pendamba, lambang taat setia yang membodohkan, lambang dendam kesumat yang menghancurkan; ialah perlambangan sebenar ke dalam diri kita – manusia gila yang sentiasa mengembara mencari makna terhadap kehidupan.

 

iii.

Apakah pentingnya kita mengambil ibrah dari pengkhianatan Hayati?

Sudah tentu tidak.

Kerna taat setia bukanlah sifat dan ciri kita sebagai manusia. Kita akan tetap mengkhianati antara satu sama lainnya, kerna kita hanyalah haiwan pemakan daging. Kita bekerja untuk memuaskan nafsu dan perasaan sendiri kerna kita tahu, kemanusiaan itu hanyalah perkataan arkaik yang pernah digunakan oleh nenek moyang kita suatu masa dahulu.

Bayangkan, dengan Cinta, kita semua masih berbunuhan sesama sendiri, perang meletus di sana sini seolah-olahnya kita tidak pernah belajar dari kehancuran dua perang dunia yang pernah berlaku sebelum ini. Di Syria misalnya, anak-anak sudah tidak mampu ke sekolah kerna manusia saling berbunuhan.

Jadi apakah pentingnya kisah Cinta di antara dua manusia seperti Zainuddin dan Hayati ini? Apakah pentingnya nanti agar kelak kita bisa menangis mengongoi bagaikan anjing melolong di waktu malam merindukan bulan? Atau apakah nanti agar kelak kita bisa mengutuk perbuatan Hayati atau memuji-muja Zainuddin?

Sudah berapa banyak puisi roman, ratusan ribu karangan novela atau jutaan ciptaan lagu yang menyatakan betapa misterius-nya perkara seperti ‘Cinta’ ini? Tetap, manusia terus-terusan mengarangi-nya, melagukannya melalui puisi-puitis dan merayakannya bak anak kecil mendapat mainan di petang hari.

Jadi menurut aku, kisah Cinta antara Zainuddin dan Hayati ini sama sekali tidak penting untuk kita bicarakan atau ingatkan. Kerna Zainuddin dan Hayati hanyalah watak. Tetapi mereka ini ialah dua watak yang berada di dalam diri kita sendiri.

Buya Hamka menulis buku ini untuk mengingatkan kita bahwa; tiap satu dari kita, bukan sahaja Zainuddin, tetapi juga Hayati.

 

iv.

Cuma jangan kita lupa, naskhah ini ialah kritik berat Buya Hamka ke atas suasana Indonesia saat dijajah Belanda. Tema-tema yang mengangkat kebudayaan Minangkabau, serangan terhadap suku bangsa dan adat pepatih yang tidak mendatangkan untung serta perlawanan politik terhadap sosial masyarakatnya pasca 1930-an ialah ciri-ciri kesusasteraan klasik penulisnya yang faham dan tahu bagaimana mengadun isu dan realpolitik untuk diangkat sebagai sebuah tesis melawan penyakit masyarakat.

Buya Hamka tahu pekerjaan menulis ini pekerjaan untuk membaiki masyarakatnya. Ahmad Gaus mencatat di dalam blognya, ketika menjawab tuduhan bahwa karya ini adalah plagiat novel Majdulin karya Mustofa Lutfi al Manfaluti (sasterawan Mesir), yang kononnya merupakan saduran dari novel Sous les Tilleuls (‘Di Bawah Pohon Tilia’) karya Alphonse Karr (sasterawan Perancis), beliau menulis dalam majalah Gema Islam (1962);

“Tjatji maki dan sumpah-serapah terhadap diri saja dengan mengemukakan tuduhan bahwa buku Tenggelamnja Kapal Van der Wijck jang saja karang 24 tahun jang lalu, adalah sebuah plagiat, atau djiplakan, atau hasil tjurian atau sebuah skandal besar, tidaklah akan dapat mentjapai maksud mereka untuk mendjatuhkan dan menghantjurkan saja. Dengan memaki-maki dan menjerang demikian persoalan belumlah selesai.”

Beliau tahu, peperangannya melawan penyakit fikiran masyarakatnya belum selesai. Bahkan, tenggelamnya kapal Van Der Wijck ialah kisah yang benar terjadi. Dengan merakam sejarah perjalanan kapal Van Der Wijck yang berlayar dari pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, menuju Tanjung Priok, Jakarta, dan tenggelam di Laut Jawa, timur laut Semarang, pada 21 Oktober 1936, Buya Hamka meninggalkan kepada pembaca dua soalan;

Pertamanya, apakah benar Cinta boleh dikorbankan untuk memuaskan keluarga?

Serta akhirnya, apakah benar cita-cita manusia tidak dapat melawan takdir?

Dan rahsia yang masih belum kita tahukan sehingga hari ini ialah mengapa, Buya Hamka melukiskan watak Zainudin sebagai anak dari Pendekar Sutan? Yang kononnya diasingkan ke Cilacap kerana membunuh mamaknya dalam sebuah perselisihan harta warisan?

 

 

 

 

ZF Zamir,
12.09 pagi, 24 Julai 2015,
Kuala Lumpur.

 

 

Article written by

One Response

  1. SKaba
    SKaba at | | Reply

    Salam,

    Saya tidak fikir persoalan besar dalam TKvDW berkisar tentang cinta. Cinta Zainuddin Hayati hanyalah pemangkin konflik yang menggerakkan idea/gagasan yang lebih besar yang dibawa oleh Buya Hamka: tentang manusia (diskriminasi), masyarakat (strata sosial) dan budaya (orang dagang/orang asal).

    Gejolak perasaan Hayati itu saat jatuh cinta pada Zainuddin tak lain adalah umpama kudup yang baru mekar, terpesona dengan panah mata kumbang (asing). Tetapi setelah terbuka pintu taman hati, maka banyaklah yang mengoda jiwa kepada seorang gadis yang rambang mata setelah menemui dunia bauran perasaan yang lebih luas dengan segala rencam sifat manusia.

    Ketika cinta Hayati berpindah ke Aziz, hal ini dapat dijelaskan dengan satu pantun Minangkabau:

    Dari Tiku ke Kuraitaji,
    Anak payang membeli limas;
    Sangguplah aku mungkir janji,
    Karena loyang gantinya emas.

    Apa yang berlaku kepada Zainuddin di Padang Panjang/Minangkabau (di bawah pengaruh matriaki) tak lain adalah satu rajuk yang panjang. Sama halnya dengan apa yang menimpa Damak, iaitu berjauh hati dengan kerenah masyarakat feudal/patriaki di Sri Mersing.

    Barangkali ada pelajaran yang lebih besar tentang manusia-masyarakat-budaya untuk kita telaah dalam TKvDW daripada persoalan cinta yang fatal itu. Agaknya, kita juga harus belajar tentang manusia, pilihan dan takdir seperti apa yang disebut dalam puisi Melayu lama dari Syair Anggun Cik Tunggal (Sutan Takdir Alisjahbana, 1996).

    Dari Agam ke Kurai Taji,
    Makan di jalan buah peria,
    Pergi ke hulu Sungai Rotan;
    Jika tuan mungkirkan janji,
    Tuan dimakan sumpah setia,
    Menjadi dayung di lautan.

    Penutup: Ada apa di Kurai Taji sebenarnya?

    Wassalam
    SK

Please comment with your real name using good manners.

Leave a Reply

Visit Us On FacebookVisit Us On TwitterVisit Us On Google Plus