• Menentang Cinta Taj Mahal

Fragmen ‘Apa Masalah Kau Dengan Budaya Indie Sebenarnya?’

 

rage-300x300

 

(Bahagian #elitsastera vs #sasterawananugerah)

Jadi apabila golongan ini, #elitsastera, #sasterawananugerah (baca: kononnya) ini marah-marah dengan kaum ‘indie’, pertama kali dahulu mengenai bahasa Melayu tinggi, kini kononnya kerana buku ‘indie’ laku keras di toko-toko buku; kita semua wajib terkujat!

Sudahlah buku kalian tidak dibaca orang, majalah kalian tiada di rak toko buku, tulisan kalian pula asyik memuji ahli politik dan memuja isteri pemimpin, mengangkat pemerintah dan parti politik, kalian menggelar diri kalian sebagai #sasterawan, kemudian kalian marah-marah dengan penulis ‘indie’ kononnya merendahkan martabat bahasa.

Kalau benar kalian #sasterawan,  karya kalian sudah pasti akan disambut khalayak. Karya kalian yang dekat dengan masyarakat itu sudah pasti akan dibincangkan dengan rakus oleh anak muda. Sudah pasti, toko buku akan kerap menelefon kalian kerna stok asyik laris. Dan lebih pasti, acara sastera kalian yang merakyat, didatangi anak muda, dialog sastera kalian dipenuhi mahasiswa.

Tetapi kalian memilih untuk menulis yang muluk-muluk tentang #isteripm, kemudian kalian bising ketika buku kalian kalah dengan buku lain? Kalian memilih untuk tunduk, diam membisu mengenai rasuah, kemudian kalian bising ketika penulis lain menulis mengenai seks? Kalian memilih mengadakan dialog di restoran pro-Israel, kemudian kalian mengeluh kerana acara kalian hanya didatangai 8 orang yang sama saban minggu?

Apakah kalian terancam dengan tulisan seks ini? Apakah kalian terancam dengan bahasa Melayu tak tinggi ini? Apakah kalian terancam dengan acara sastera rakyat yang diadakan saban bulan, seluruh pelosok negeri yang mendapat sambutan anak muda? Jika benar kalian terancam, lawanlah dengan tulisan. Lawanlah dengan ideologi (baca; itupun jika ada ideologi). Lawanlah dengan budaya sastera yang kalian miliki.

*Antologi Rage Rage Rage terbitan Dubook Press ini boleh dibeli di Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur mulai 24 April-4 Mei 2014, gerai , H16-H19, Dewan Tun Hussein Onn.
** Antologi ini hanya dicetak 1500 naskhah tanpa ulang cetak, juga boleh dapatkan di www.dubookpress.com

 

Article written by

2 Responses

  1. ppotter
    ppotter at | | Reply

    Polemiknya tentang bahasa. Bukan soal pengisian. Tulisan tentang seks sekalipun kalau diadun dengan bahasa sopan, indah jadinya.

  2. fadz
    fadz at | | Reply

    retorik ini sebenarnya tak perlu, dan jawapan Saat Omar berkenaan hal ini yg terbaik, bukan emosional derbak derbak, jadi buat apa perlu meloncat sebegini? Malah yang saudara nyatakan di atas pun BUKAN sastera perdana tapi sastera entah di mana. Ingat golongan sasterawan layan ke tulisan begitu? Nak muntah adalah ..

Please comment with your real name using good manners.

Leave a Reply

Visit Us On FacebookVisit Us On TwitterVisit Us On Google Plus